Ahli: Perlu Reinterpretasi Ketentuan Penggolongan Narkotika

Ahli: Perlu Reinterpretasi Ketentuan Penggolongan Narkotika

Dalam persidangan pengujian UU Narkotika yang digelar di Mahkamah Konstitusi pada 30 Agustus 2021, Asmin Fransiska, sebagai Ahli yang diajukan oleh Pemohon menyatakan jika Konvensi Tunggal Narkotika harus direinterpretasi dengan itikat baik. Menurutnya, perjanjian ini tidak serta merta muncul namun hasil dari proses geopolitik dan definisi ancaman dari Negara – Negara yang merumuskan Konvensi Tunggal Narkotika 1961 dan juga Konvensi Psikotropika 1971.

Asmin juga menjelaskan bahwa kedua Konvensi penting tersebut menyebutkan adanya implikasi kesehatan yang dijelaskan dalam kedua mukadimahnya

“Recognizing that the medical use of narcotic drugs continues to be indispensable for          the relief of pain and suffering and that adequate provision must be made to ensure       the availability of narcotic drugs for such purposes’ (1961)”.

“Recognizing that the use of psychotropic substances for medical and scientific purposes is indispensable and that their availability for such purposes should not be unduly restricted (1971)”.

Pada intinya, menurut Asmin, Konvensi Tunggal Narkotika 1961 dan Konvensi Psikotropika 1971 harus dimaknai dengan konteks kesehatan, ketersediaan obat-obatan, dan juga tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan bukan semata hanya pelarangan dan penghukuman.

Sayangnya, menurut Asmin, pemerintah Indonesia hanya melakukan intrepretasi atas pelarangan penggunakan narkotika dalam Konvensi Tunggal 1961 padahal Kovensi Tunggal Narkotika 1961 bertujuan untuk memastikan negara untuk mampu menggontrol narkotika dan memastikan negara memiliki ketersediaan narkotika (availibility of narcotics drugs) untuk kepentingan kesehatan dan ilmu pengetahuan (medical and scientific purposes).

David Nutt, ahli lain yang dihadirkan di persidangan Mahkamah Konstitusi, juga menjelaskan jika Cannabis telah digunakan untuk alasan kesehatan lebih dari 5000 tahun di berbagai tempat, dari China, India, hingga ke kekaisaran Romawi dan Yunani. Ratu Victoria, menurut David, juga telah menggunakan Cannabis untuk meringankan rasa sakit menstruasi dan juga persalinan.

David menunjukkan bahwa Cannabis Medis aman dan telah digunakan di berbagai Negara. Ia juga menjelaskan jika penggunaan Cannabis di Jerman, Italia, Belanda, Canada, dan berbagai Negara lain telah bermanfaat bagi ribuan pasien. Dan di Inggris menurutnya, telah ada bukti yang sangat kuat jika cannabis memiliki sifat dan khasiat medis yang unik.

Senada dengan David, Prof Musri Musman, Ahli yang dihadirkan oleh Mahkamah Konstitusi juga menjelaskan jika Cannabis dilaporkan telah digunakan sebagai obat – obatan untuk setidaknya lebih 73 penyakit, salah satunya untuk menangani penyakit epilepsi. Komponen Cannabis yang terdiri dari THC dan CBD juga telah disetujui oleh FDA Amerika Serikat sebagai bahan dasar obat – obatan seperti Nabilone, Marinol, dan Sativex.

Dalam kesempatan tersebut, Musri juga menginformasikan jika pada Juni 2018, EPIDIOLEX menjadi obat preskripsi berbahan dasar CBD pertama dan satu-satunya di dunia yang disetujui oleh FDA untuk mengobati kejang yang berhubungan dengan Lennox-Gastaut Syndrom(LGS), Dravet Syndrom, & TuberosSclerosis Complex (TSC) pada anak usia 1 tahun ke atas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *