Berkaca dari Pemanfaatan Ganja untuk Kepentingan Kesehatan di Korea Selatan dan Thailand

Berkaca dari Pemanfaatan Ganja untuk Kepentingan Kesehatan di Korea Selatan dan Thailand

Dalam persidangan di Mahkamah Konstitusi yang berlangsung pada 12 Oktober 2021, Rev. Sung Seok Kang dari Korean Cannabis Organization menjelaskan mengenai perubahan kebijakan di Korea Selatan terkait dengan ganja untuk kepentingan kesehatan. Perubahan ini terjadi pada 2019 setelah sekelompok ahli menyusun rekomendasi perubahan kebijakan kepada Parlemen Korea Selatan untuk membolehkan penggunaan ganja untuk kepentingan pelayanan kesehatan.

Rekomendasi tersebut akhirnya disetujui dengan melalui amandemen terhadap Undang-Undang Narkotika yang memperbolehkan penggunaan ganja untuk kepentingan kesehatan. Pemerintah Korea Selatan lalu bergerak cepat dengan menyusun peraturan mengenai mekanisme lembaga pemerintah tertentu yang dapat mengeluarkan ijin bagi praktisi medis untuk memberikan resep obat ganja medis kepada pasien termasuk menunjuk farmasi/toko obat tertentu yang dapat menebuskan resep tersebut, sehingga penggunaan ganja medis tetap dapat terkontrol oleh Pemerintah.

Menurut Sung, orang-orang yang membeli ganja medis dengan tidak sesuai prosedur dan resep dokter akan tetap dianggap melanggar UU Narkotika Korea Selatan.

Sementara dalam kesempatan yang sama, Pakakrong Kwankhao, PhD, Wakil Direktur Institusi Ganja Medis di Kementerian Kesehatan Thailand menjelaskan penerapan kebijakan pemanfaatan ganja untuk kepentingan penelitian dan kesehatan di Thailand yang dimulai sejak 2019. Tak hanya itu penggunaan secara tradisional/herbal, obat-obatan ganja medis (ekstrak THC, CBD, maupun kombinasi keduanya) saat ini termasuk dalam produk obat-obatan esensial nasional sehingga seluruh pasien yang memenuhi syarat medis tertentu dapat mengakses obat tersebut dari rumah sakit maupun fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.

Pemerintah Thailand khususnya otoritas kesehatan (baik konvensional maupun tradisional) juga menyediakan pedoman/guidelines penggunaan ekstrak ganja medis. Meskipun tidak digunakan sebagai pilihan utama, namun dalam hal seluruh pengobatan standar tidak membuahkan hasil, maka dokter dapat merujuk penggunaan ganja medis untuk memperbaiki kondisi pasien tersebut. Dokter yang menggunakan ganja medis pada pasien di Thailand wajib memberikan laporan efektifitas dan efek samping/keamanan dari setiap pengobatan tersebut pada badan pengawas obat-obatan.

Pakakrong juga memperlihatkan bukti ilmiah gambaran peningkatan kualitas kesehatan yang signifikan dari pasien-pasien neuropatis dan kanker (tahap lanjut) yang mendapat pengobatan ganja medis.

D Thailand sendiri menurut penjelasannya penggunaan ganja untuk seluruh kegiatan penelitian maupun untuk kesehatan mendapatkan ijin dari Komite Nasional Narkotika. Ekosistem untuk menjamin keamanan publik seperti mencegah penyalahgunaan juga telah disediakan di Thailand, seperti adanya pelatihan terhadap tenaga medis dan mewajibkan adanya registrasi tenaga medis ketika akan meresepkan ganja medis, menjamin kualitas produk obat-obatan ganja medis, penggunaan sistem data elektronik untuk pemantauan penggunaan maupun deteksi penyalahgunaan yang seluruhnya berada pada tanggung jawab Kementerian Kesehatan.

Pakakrong menunjukkan hasil monitoring yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan dimana angka keracunan ganja untuk pengobatan, karena perolehannya dari pasar gelap yang tidak sesuai standar keamanan obat, mulai menurun setelah kebijakan ganja medis diatur secara resmi oleh Pemerintah Thailand pada Februari 2019.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *