Hati-Hati Dalam Menggunakan Media Sosial Agar Tidak Menjadi Korban Doxing

Hati-Hati Dalam Menggunakan Media Sosial Agar Tidak Menjadi Korban Doxing

Doxing adalah kegiatan mengumpulkan informasi data pribadi dan menyebar luaskan atau memposting informasi tersebut kepada publik. Doxing bertujuan untuk mempermalukan, menakut-nakuti, memeras, memfitnah, menggertak, atau membahayakan target. Doxing dapat ditargetkan ke orang atau organisasi tertentu. Istilah doxing berasal dari kata “.doc”, karena dokumen sering diambil dan dibagi.

Dalam doxing ada beberapa kegiatan yang dilakukan untuk menyebar data pribadi. Adapun beberapa jenis doxing , yaitu:

  1. Deanonymization

Deanonymization adalah menyebarkan informasi yang mengungkapkan identitas seseorang yang sebelumnya atau dari awal menganonimkan diri. Anonim berarti tidak menggunakan nama asli atau nama sebenarnya.

  1. Targeting doxing

Targeting doxing merupakan pengungkapan identitas seseorang melalui keberadaan fisik (nomor telephone atau email). Targeting doxing meningkatkan aksesibilitas fisik subjek dengan menghapus ketidak jelasan yang melingkupi tempat seseorang tinggal atau bekerja. Targeting doxing hampir mirip dengan deanonymizing doxing, yang membedakan adalah cara pengungkapannya. Targeting menyebarkan identitas pribadi seperti alamat rumah, alamat kampus, jurusan kuliah, dan alamat tempat bekerja.

  1. Delegitimization

Delegitimization doxing merupakan kegiatan menyebarkan informasi pribadi dengan tujuan untuk meruntuhkan kredibilitas, reputasi, dan karakter subjek, dan hal ini mencoba untuk mempermalukan subjek, sering kali dengan menggambarkannya sebagai pelanggar norma sosial.

Ada beberapa kasus doxing yang terjadi di Indonesia, seperti kasus pengungkapan akun twitter @poconggg. Pengungkapan tersebut berupa informasi data pribadi seperti nama lengkap, foto, tempat dia kuliah dan tanggal lahir. Hal ini menimbulkan kerugian besar bagi akun @poconggg, karena akun tersebut sering memperoleh iklan dari tulisan percintaan yang dia posting. Kasus lainnya yaitu terjadi pada salah satu wartawan, Cakrayuri Nuralam yang informasi pribadinya disebarluaskan tanpa hak dan izin dengan tujuan mendiskreditkan berita yang dibuatnya. Bahkan baru-baru ini terjadi kasus doxing yang dialami pengguna jasa layanan pinjol, dimana foto korban yang sedang memegang KTP diedit dengan narasi menerima pesanan untuk melayani transaksi seksual diancam akan disebarluaskan karena telat membayar pinjaman.

Di Indonesia, Pelindungan data pribadi merupakan salah satu hak asasi manusia , maka perlu diberikan landasan hukum yang kuat untuk memberikan keamanan atas data pribadi. Oleh karena itu doxing jelas dilarang dan diatur pada Pasal 26 UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik yang telah diubah dengan UU No. 19 Tahun 2016, yaitu setiap informasi melalui media elektronik yang menyangkut data pribadi seseorang harus dilakukan atas persetujuan orang yang bersangkutan. Dalam pemanfaatan Teknologi Informasi, perlindungan data pribadi merupakan salah satu bagian dari hak pribadi (privacy rights). Hak pribadi mengandung pengertian sebagai berikut:

  1. Hak pribadi merupakan hak untuk menikmati kehidupan pribadi dan bebas dari segala macam gangguan.
  2. Hak pribadi merupakan hak untuk dapat berkomunikasi dengan Orang lain tanpa tindakan memata-matai.
  3. Hak pribadi merupakan hak untuk mengawasi akses informasi tentang kehidupan pribadi dan data seseorang.

Selain itu dalam RUU PDP Pasal 51 tertulis dengan jelas larangan dalam penggunaan data pribadi, yaitu:

  1. Setiap Orang dilarang memperoleh atau mengumpulkan Data Pribadi yang bukan miliknya dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum atau dapat mengakibatkan kerugian Pemilik Data Pribadi.
  2. Setiap Orang dilarang secara melawan hukum mengungkapkan Data Pribadi yang bukan miliknya.
  3. Setiap Orang dilarang secara melawan hukum menggunakan Data Pribadi yang bukan miliknya.

Namun sayangnya sampai saat ini RUU PDP belum kunjung disahkan, penyelesaian RUU Perlindungan Data Pribadi (RUU PDP) hendaknya menjadi prioritas yang bisa disegerakan pemerintah.

Sebagai pengguna media sosial yang bijak, ada beberapa cara yang dapat dilakukan agar anda tidak menjadi korban doxing, yaitu:

  1. Periksa pengaturan privasi di seluruh akun media sosial, dan pastikan Anda tahu siapa saja yang dapat melihat dan memiliki akses terhadap konten Anda.
  2. Gunakan kata sandi yang unik untuk akun media sosial Anda dan pastikan bahwa setiap pertanyaan keamanan sulit untuk ditebak.
  3. Gunakan username yang unik pada setiap media sosial yang Anda gunakan.
  4. Gunakan otentikasi keamanan di media sosial Anda, seperti ­two-factor authentication.
  5. Batasi jumlah informasi pribadi yang bagikan secara online, seperti alamat pribadi, tempat belajar atau bekerja, dan nomor telepon pribadi Anda.
  6. Mulai biasakan untuk mencari informasi mengenai diri sendiri dalam incognito mode, untuk mengetahui seberapa banyak informasi data pribadi Anda yang dapat diakses oleh orang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *