Hati-Hati Kena Tipu Dari Arisan Online

Mendengar kata arisan, mayoritas dari kita langsung terbayang aktivitas beberapa orang yang sedang berharap-harap cemas namanya keluar dari daftar “kocokan” uang arisan yang dilakukan. Kegiatan arisan sendiri sebetulnya bukan merupakan hal baru di tengah masyarakat Indonesia. Biasanya setiap anggota akan menyerahkan sejumlah uang sebagai iuran rutin. Nantinya setiap anggota akan mendapatkan gilirannya mendapatkan uang iuran ini.

Disamping itu budaya arisan sendiri tidak cuma berbicara tentang mendapatkan uang, namun secara lebih luas lagi dapat menjadi alat silaturahmi dan menjalin keakraban antar anggotanya. Seiring perkembangan zaman, arisan akhirnya menjadi budaya pop yang tidak hanya diikuti oleh kaum ibu-ibu karena saat ini sebagian generasi muda pun sudah mulai mengadakan arisan sebagai “tempat bersosialisasi”.

Namun sayangnya, budaya arisan yang selama ini bernuansa positif berubah menjadi negatif akibat maraknya kasus penipuan berkedok arisan. Beberapa waktu yang lalu, masyarakat dihebohkan dengan berita arisan bodong yang dilakukan secara online, dengan perputaran uang sampai dengan miliaran rupiah di dalamnya. Tidak tanggung-tanggung dalam rentang waktu tiga bulan ke belakang (Desember 2021–Februari 2022) terdapat tiga kasus arisan bodong yang terungkap ke publik. Ada yang berlokasi di Cilacap, Banjarmasin, dan yang paling terbaru ada di Sumedang, Jawa Barat.

Maraknya keberadaan arisan bodong yang kasusnya kemudian terungkap ke publik, membuktikan bahwa masyarakat harus lebih berhati-hati pada modus kejahatan seperti ini. Apalagi dengan adanya iming-iming keuntungan atau bunga yang berkali-kali lipat sebagai investasi dari duit iuran yang disetorkan, dalam waktu yang relatif singkat.

Lalu, bagaimana hukum di Indonesia mengatur tentang perbuatan pelaku? Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, kegiatan arisan bodong ini dapat dikenakan sanksi sesuai dengan Pasal 372 KUHP tentang Penggelapan dan Pasal 378 KUHP tentang Penipuan. Adapun Pasal 372 memiliki rumusan sebagai berikut :

“Barang siapa dengan sengaja dan melawan hukum memiliki barang sesuatu yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang lain, tetapi yang ada dalam kekuasaannya bukan karena kejahatan diancam karena penggelapan, dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak sembilan ratus rupiah.”

Sedangkan Pasal 378 memiliki rumusan sebagai berikut :

“Barangsiapa dengan maksud hendak menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan melawan hak, baik dengan memakai nama palsu atau keadaan palsu, baik dengan akal dan tipu muslihat, maupun dengan karangan perkataan-perkataan bohong, membujuk orang supaya memberikan sesuatu barang, membuat utang atau menghapus piutang, dihukum karena penipuan, dengan hukuman penjara selama-lamanya empat tahun.”

Ketua Satgas Waspada Investasi (SWI) Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Tongam Tobing, menjelaskan bahwa arisan memiliki tujuan utama untuk berkumpul di dalam komunitas tertentu, bukan sebagai tempat untuk investasi. Apabila terdapat kegiatan investasi, Tongam mengatakan bahwa sudah pasti itu adalah investasi ilegal. Lanjutnya, agar tak terulang kembali masyarakat diharapkan untuk lebih berhati-hati dan waspada sebelum menempatkan dana.

Mau membuat perjanjian, pernyataan, ataupun dokumen hukum lainnya tanpa repot dan gratis? Anda dapat membuat beragam dokumen hukum untuk berbagai keperluan pribadi anda.

Segera kunjungi DokumenHukum.ID

Leave a Reply

Your email address will not be published.