Ini Yang Dilakukan Organisasi Advokat dalam Menghadapi Pandemi Covid 19

Ini Yang Dilakukan Organisasi Advokat dalam Menghadapi Pandemi Covid 19

Dalam menghadapi pandemic Covid 19, organisasi advokat punya peran yang sangat penting. Ada berbagai inisiatif yang dilakukan oleh organisasi advokat ketika pandemic Covid 19 mulai melanda dunia dan memaksa berbagai pemerintah untuk menerapkan pembatasan – pembatasan untuk mengurangi laju penularan Covid 19

Gregory Vijayendran, Presiden Law Society of Singapore, dalam sebuah diskusi webinar yang diselenggarakan pada Selasa 3 Agustus 2021, memberikan contoh berbagai inisiatif yang dilakukan oleh Law Society of Singapore.

Salah satu yang dilakukan oleh Law Society of Singapore (LSS) adalah melakukan survey yang melibatkan 13% dari anggota LSS tentang dampak Covid 19 dalam pekerjaan para anggotanya. Survey ini dilakukan untuk agar LSS dapat membantu para anggotanya secara efektif dalam menghadapi pandemic Covid 19.

Selain itu LSS juga meluncurkan panduan pencegahan kekerasan dan bullying di tempat kerja di 2021. Sekitar 21 kantor hukum di Singapura juga bergabung dalam upaya pencegahan kekerasan dan bullying di tempat kerja. Bersama – sama dengan LSS, ke 21 kantor hukum tersebut akan melaksanakan rekomendasi – rekomendasi LSS untuk menerapkan tempat kerja yang aman.

Dalam kesempatan yang sama, Harry Ponto – Wakil Ketua Umum PERADI Suara Advokat Indonesia (PERADI SAI), menyatakan jika di Indonesia, advokat diberikan status sebagai penegak hukum dan dijamin kebebasannya untuk menjalankan profesinya termasuk bebas dari hambatan, rasa takut, dan perlakuan lain yang menghambat profesi advokat. Namun karena organisasi advokat tidak cukup kuat, karena itu dalam menjalankan profesi masih menemui hambatan dan organisasi profesi masih sulit melindungi anggotanya dari kriminalisasi. Ia juga menyebutkan tantangan lain seperti penyediaan bantuan hukum untuk kelompok masyarakat miskin. Dengan situasi pandemi Covid 19 juga memberikan keuntungan, misalnya dalam konteks pendidikan berkelanjutan. Harry Ponto mencontohkan berbagai kegiatan online dapat dilakukan dengan jangkauan yang lebih luas.

Luhut M.P. Pangaribuan, Ketua Umum PERADI Rumah Bersama Advokat (PERADI RBA), menyebutkan jika organisasi advokat Indonesia bisa belajar dari LSS, terutama untuk menyelenggarakan berbagai fungsi yang disebutkan dalam hukum. Ia sendiri menekankan jika, organisasi advokat di Indonesia sedang mencari bentuk yang tepat dari organisasi advokat. Luhut sendiri berkeyakinan, konsep single bar tersebut semestinya ada pada standar yang tunggal mengenai profesi advokat. Dalam menghadapi Covid 19, PERADI RBA, menurut Luhut, pihaknya telah meminta agar pemerintah memasukkan profesi advokat sebagai bagian dari sektor esensial. Ia juga setuju agar ada pencegahan kekerasan dan bullying di tempat kerja mulai diperhatikan oleh organisasi advokat.

Pheo M. Hutabarat, Sekretaris Umum Kongres Advokat Indonesia (KAI), menjelaskan jika pada realitasnya di Indonesia terdapat banyak organisasi advokat. Peran strategis organisasi advokat, menurut Pheo, adalah berfokus pada program. KAI sendiri, menurutnya, menegaskan jika perlu ada sistem untuk mengakomodasi kepentingan seluruh Anggota KAI. Salah satunya, mengadopsi e lawyer system, yang membantu KAI berkomunikasi dengan seluruh anggotanya. Dengan sistem e lawyer, memudahkan KAI untuk melakukan pengorganisasian seluruh anggotanya yang tersebar di Indonesia. Dengan pandemic, KAI juga memungkinkan penyelenggaraan PKPA secara online yang menjangkau seluruh Indonesia. KAI juga mengusulkan program 1 kampung, 1 advokat. Program ini diusulkan oleh KAI untuk mengakselerasi akses terhadap keadilan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *