Kekerasan di Sekolah Kedinasan, Bagaimana Pandangan Hukum?

Kekerasan di Sekolah Kedinasan, Bagaimana Pandangan Hukum?

Baru-baru ini salah satu mahasiswa taruna Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Semarang meninggal dunia akibat dipukul oleh seniornya dengan dalih pembinaan. Menurut Pakar Pendidikan Karakter, Doni Koesoema mengatakan hampir seluruh sekolah kedinasan di bawah kementerian atau lembaga pemerintah masih menerapkan gaya disiplin militer untuk membentuk calon pelayan publik yang disiplin dan patuh, gaya disiplin militer yang dimaksud ialah kekerasan verbal hingga fisik. Semua tindakan itu dibiarkan oleh pembina maupun pendidik karena dianggap wajar dan dibalut budaya senioritas.

Kekerasan di sekolah kedinasan sudah berulang kali terjadi di Indonesia. Kekerasan yang berujung kematian di sekolah kedinasan mulai terekspose secara luas ke masyarakat pada tahun 2007 yaitu Praja IPDN yang meninggal dunia karena mengalami tindak kekerasan pada seniornya, bahkan dalam kurun waktu 1990-2007 ada sekitar 17 kematian tidak wajar yang dialami praja IPDN. Dalam hal ini Dosen Fisip Universitas Airlangga, Bagong Suyanto mengatakan mata rantai tindak kekerasan tidak mudah diputuskan sebab siswa junior yang pada tahun pertama masuk sekolah menjadi korban bullying dan pada tahun kedua bukan suatu hal yang tidak mungkin mereka akan menjadi pelaku bullying kepada adik kelasnya, ini merupakan rule of the game yang diwariskan dari angkatan ke angkatan berikutnya.

Bullying atau dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai “penindasan/risak” merupakan segala bentuk penindasan atau kekerasan yang dilakukan dengan sengaja oleh satu orang atau sekelompok orang yang lebih kuat atau berkuasa terhadap orang lain, dengan tujuan untuk menyakiti dan dilakukan secara terus menerus. Dalam kasus-kasus bullying, terdapat beberapa orang yang terlibat, yaitu:

  1. Bully, Dimana seseorang berperilaku sengaja menyakiti orang lain secara:

Kontak fisik langsung

Tindakan memukul, mendorong, menggigit, menjambak, menendang, mengunci seseorang dalam ruangan, mencubit, mencakar, juga termasuk memeras dan merusak barang yang dimiliki orang lain.

Kontak verbal langsung

Tindakan mengancam, mempermalukan, merendahkan, mengganggu, memberi panggilan nama (name-calling), sarkasme, merendahkan (put-downs), mencela/mengejek, mengintimidasi, memaki, menyebarkan gosip.

Perilaku non-verbal langsung

Tindakan melihat dengan sinis, menjulurkan lidah, menampilkan ekspresi muka yang merendahkan, mengejek, atau mengancam; biasanya disertai oleh bullying fisik atau verbal.

Perilaku non-verbal tidak langsung

Tindakan mendiamkan seseorang, memanipulasi persahabatan sehingga menjadi retak, sengaja mengucilkan atau mengabaikan, mengirimkan surat kaleng.

Cyber bullying

Tindakan menyakiti orang lain dengan sarana media elektronik (rekaman video intimidasi, pencemaran nama baik lewat media social)

Pelecehan seksual

Kadang tindakan pelecehan dikategorikan perilaku agresi fisik atau verbal.

  1. Victim

Seseorang yang menerima dan menjadi target dari perilaku agresif, tindakan yang menyakitkan dan hanya memperlihatkan sedikit pertahanan melawan Bully.

  1. By stander

Seseorang yang berperilaku hanya melihat atau menyaksikan terjadinya bullying dan penderitaan korban.

Perlakuan bullying ini tentu saja bertentangan dengan hukum. Hukum pidana mengatur beberapa tindakan tertentu khususnya yang berhubungan dengan tubuh. Misalnya jika bullying berbentuk kekerasan fisik dapat dijatuhi Pasal 351-358 terkait penganiayaan, bullying berbentuk pengeroyokan dapat dijerat dengan Pasal 170 KUHP, bullying berbentuk pelecehan seksual dapat dikenai Pasal 289 KUHP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *