Kenapa Tren Perkawinan Anak Malah Meningkat di Masa Pandemi?

Kenapa Tren Perkawinan Anak Malah Meningkat di Masa Pandemi?

Di masa pandemi ini tren perkawinan anak semakin meningkat. Ini dibuktikan dengan data pada 2019 ada sebanyak 23.126 permohonan dispensasi kawin dan semakin meningkat pada Januari – Juni 2020 dimana terdapat 34.000 permohonan dispensasi kawin yang diajukan kepada Pengadilan Agama dan sebanyak 97% dikabulkan. Bahkan baru-baru ini ada laporan sebanyak 300 siswa SMA di Kalimantan Tengah melakukan pernikahan di masa pandemi ini.

Merujuk pada UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang telah diubah dengan UU No. 16 Tahun 2019 pada Pasal 7 menyatakan bahwa perkawinan hanya diizinkan apabila pria dan wanita sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun. Dalam hal terjadi penyimpangan terhadap ketentuan umur sebagaimana dimaksud, orang tua pihak pria dan/atau orang tua pihak wanita dapat meminta dispensasi kepada Pengadilan dengan alasan sangat mendesak disertai bukti-bukti pendukung yang cukup.

Dimana yang dimaksud dengan “alasan sangat mendesak” adalah keadaan tidak ada pilihan lain dan sangat terpaksa harus dilangsungkan perkawinan dan yang dimaksud dengan “bukti-bukti pendukung yang cukup” adalah surat keterangan yang membuktikan bahwa usia mempelai masih di bawah ketentuan undang-undang dan surat keterangan dari tenaga kesehatan yang mendukung pernyataan orang tua bahwa perkawinan tersebut sangat mendesak untuk dilaksanakan.

Pemerintah telah menetapkan peraturan mengenai umur dari pria dan wanita yang diizinkan untuk melaksanakan perkawinan, peraturan ini dikeluarkan dengan menimbang bahwa perkawinan pada usia anak menimbulkan dampak negatif bagi tumbuh kembang anak dan akan menyebabkan tidak terpenuhinya hak dasar anak seperti hak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, hak sipil anak, hak kesehatan, hak pendidikan, dan hak sosial anak. Selain itu perkawinan anak tentu saja memiliki dampak dan risiko yang lain, yaitu:

  1. Mayoritas terpapar hubungan seksual pada usia awal dan sering serta mengalami kehamilan berulang dan melahirkan sebelum mereka matang secara fisik dan psikologis
  2. Kematian terkait kehamilan merupakan penyebab utama kematian pada anak perempuan berusia 15-19 tahun, dan mereka yang berusia di bawah 15 tahun lima kali lebih mungkin meninggal daripada mereka yang berusia di atas 20 tahun.
  3. Kematian bayi dua kali lebih tinggi pada bayi dari ibu yang sangat muda.
  4. Wanita yang lebih muda, khususnya mereka yang berusia 15-19 tahun, dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah memiliki risiko kekerasan fisik atau seksual yang lebih tinggi yang dilakukan oleh pasangannya
  5. Perkawinan anak mengakibatkan anak perempuan dan keturunan mereka tidak memiliki kontribusi intelektual dan finansial / mata pencaharian.

Perkawinan anak masih saja terjadi walaupun memiliki dampak dan risiko yang nyata, perkawinan ini diakibatkan oleh beberapa faktor. Adapun faktor-faktor yang berkaitan dengan praktik perkawinan anak meliputi:

  1. Faktor pendidikan

Aktivitas belajar di rumah pada masa pandemi ini mengakibatkan remaja memiliki keleluasaan dalam bergaul di lingkungan sekitar, termasuk untuk pacaran. Keluarga takut jika anak-anak berpacaran melewati batas maka memilih untuk segera menikahkan.

  1. Faktor ekonomi

kemiskinan merupakan pendorong utama perkawinan anak pada perempuan di negara berkembang Perkawinan usia anak kerap kali terjadi dengan latar belakang orang tua yang ingin meningkatkan kesejahteraan ekonomi keluarga. Bagi rumah tangga miskin, kebanyakan anak perempuan dianggap sebagai beban ekonomi dan perkawinan dianggap sebagai solusi untuk melepaskan diri dari kemiskinan

  1. Faktor pergaulan bebas

Kurangnya bimbingan dan perhatian dari orang tua, anak akan mencari jalan supaya mereka bisa merasa bahagia, yaitu dengan bergaul dengan orang-orang yang tidak dilihat terlebih dahulu kelakuannya (bebas). Hal yang sangat sering terjadi yakni hamil duluan di luar ikatan pernikahan. Sehingga karena hal tersebut, mau tidak mau orang tua akan memberi izin kepada anaknya yang masih di bawah umur untuk menikah.

  1. Faktor tradisi

Anak perempuan yang dianggap terlambat menikah disebut sebagai perawan tua. Sehingga banyak anak perempuan menginginkan pernikahan karena stigma buruk terhadap perempuan yang belum menikah, dan ada anggapan bahwa menjalankan peran sebagai istri dan ibu dianggap sebagai peran utama perempuan yang patut dipenuhi. Selain itu beberapa tradisi yang melanggengkan perkawinan anak masih ditemukan di Indonesia, seperti merariq di Lombok di mana perempuan ‘dilarikan’ ke rumah laki-laki untuk dapat dinikahkan.

  1. Faktor lainnya

Risiko anak perempuan dinikahkan semakin tinggi dalam situasi setelah terjadinya bencana alam, cara ini digunakan untuk meringankan beban ekonomi keluarga karena hilangnya aset pada saat terkena bencana. Selain itu dalam beberapa kasus, perkawinan terjadi untuk mendapatkan bantuan pemerintah yang khusus diberikan kepada mereka yang menikah dan memulai untuk berkeluarga.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *