Kisah Pertautan Wilhelmus dan Indonesia Raya

Kisah Pertautan Wilhelmus dan Indonesia Raya

Pertautan awal

Wage Rudolf Supratman atau yang lebih dikenal sebagai W.R. Supratman, pada 1924 bekerja sebagai jurnalis untuk surat kabar Sin Po. Wage muda ternyata tertarik dengan dunia pergerakan kemerdekaan. Ia lalu menciptakan lagu-lagu perjuangan, dimana lagu berjudul Dari Barat Sampai Ke Timur adalah gubahan pertamanya.

Namun ia gusar manakala membaca sebuah tantangan dari Majalah Timbul. Timbul menantang para komponis Indonesia untuk menciptakan lagu kebangsaan. Tertulis disitu “Alangkah baiknya kalau ada salah seorang dari pemuda Indonesia yang bisa menciptakan lagu kebangsaan Indonesia, sebab lain-lain bangsa semua telah memiliki lagu kebangsaannya masing-masing!”

Tantangan itu disambut oleh Wage. Menurutnya, kalau Belanda sudah punya lagu kebangsaan Wilhelmus, mengapa Indonesia belum punya. Ia lalu berjanji mengarang lagu dengan meminta restu kepada keluarganya.

Berawal dari Indonees Indonees

Meski lagu gubahannya Dari Barat Sampai ke Timur telah ramai digunakan sebagai lagu kaum pergerakan, akan tetapi Wage merasa jika lagu tersebut belum menggugah semangat berjuang. Wage lalu berupaya keras untuk menggubah lagu kebangsaan. Semangatnya semakin memuncak saat mengetahui Indonesische Studieclub yang dipimpin Sukarno mengeluarkan pernyataan jika diperlukan segera lagu nasional. Calon lagu kebangsaan akhirnya lahir di pertengahan 1928 yang saat itu judulnya adalah  “Indonees Indonees” dengan sub judul “lagu kebangsaan”.

Bertepatan dengan lahirnya lagu kebangsaan tersebut, para pemuda sedang sibuk mempersiapkan Kongres Pemuda II. Sebagai wartawan Sin Po, Wage, pernah ditugaskan untuk meliput Kongres Pemuda I yang diadakan pada 30 April-2 Mei 1926. Sin Po kembali meminta Wage untuk meliput Kongres Pemuda II. Namun Wage tak hendak hanya menuliskan berita. Ia ingin agar lagu gubahannya diperdengarkan. Wage lalu menulis surat kepada panitia guna memperkenalkan lagunya dan untuk diperdengarkan dalam kongres.

Dalam Kongres Pemuda II yang digelar di Clubgebouw, Jalan Kramat 106, Batavia, Wage lalu berbicara dengan Sugondo Djojopuspito yang memimpin acara Kongres. Ia meminta ijin agar diperkenankan memperkenalkan lagu kebangsaan sembari menyerahkan kertas berisi notasi dan syair lagu kebangsaan gubahannya. Soegodno lalu menyetujui permintaan Wage.

Namun Soegondo tak berhenti disitu. Agar acara berlangsung aman, Ia menemui Dr. Ch.D van der Plas, penasihat urusan bumiputra. Di luar dugaan, van der Plas menyetujui lagu Indonees Indonees dikumandangkan. Tak hanya van der Plas yang setuju, Komisaris Besar Polisi, J.M. Feuerstein juga memberikan ijin lagu Indonees Indonees dimainkan saat Kongres Pemuda II.

Wage lalu Supratman membawakan lagu itu dengan biolanya usai sidang pleno ketiga. Penampilannya mendapat sambutan hangat dari peserta kongres. Sin Po juga memuat lagu dan notasi Indonees Indonees pada edisi No. 293.

Selepas Kongres Pemuda II, kedudukan lagu Indonees Indonees semakin kuat. Lagu itu dinyanyikan dan jadi lagu wajib yang hampir selalu dinyanyikan di setiap pertemuan-pertemuan organisasi nasional.

Pada kongres kedua Partai Nasional Indonesia (PNI) di Jakarta, 18-20 Desember 1929, lagu Indonees Indonees kembali diperdengarkan. Wage diminta memperdengarkan lagu kebangsaan dengan gesekan biolanya bersama suatu orkes. Bung Karno, Ketua PNI, lalu meminta para hadiri peserta Kongres untuk berdiri untuk menghormati lagu Indonees Indonees. Sejak itu hingga pada saat ini dan seterusnya apabila lagu kebangsaan dinyanyikan, maka selalu dihormati dan dinyanyikan dengan berdiri.

Lagu Indonees Indonees ditetapkan pertama kali sebagai lagu kebangsaan Indonesia pada Kongres II PNI. Penetapan ini kemudian disahkan dalam Kongres Rakyat Indonesia yang digelar Gabungan Politik Indonesia (Gapi) pada Desember 1939. Kongres Gapi juga menetapkan bendera Merah Putih sebagai bendera nasional dan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.

Namun, lirik asli Indonees Indonees yang tertulis mulia – mulia lalu ternyata berganti menjadi merdeka – merdeka. Wage pun akhirnya diinterograsi karena menurut pemerintah Hindia Belanda, setelah akhirnya mempelajari lirik lagu Indonees Indonees, lagu itu dianggap mengandung tujuan politik. Sebabnya tertulis merdeka – merdeka. Wage menyanggahnya, karena menurutnya lirik aslinya tidak memuat kata merdeka. Kata itu menurut Wage, diubah oleh pemuda lainnya.

Pemerintah Hindia Belanda akhirnya memutuskan lagu Indonees Indonees hanya boleh diperdengarkan di ruang tertutup dan pertemuan tersebut tidak dihadiri oleh orang – orang yang berusia dibawah 18 tahun. Selain itu kata merdeka juga dilarang untuk dinyatakan.

Menjadi Indonesia Raya

Menjelang Kemerdekaan, pada 1944, dibentuklah Panitia Lagu Kebangsaan Indonesia yang diketuai oleh Soekarno dan anggotanya Ki Hajar Dewantara, Achiar, Sudibyo, Darmawidjaja hingga Mr. Oetojo.

Pada 8 September 1944, ditetapkan empat keputusan mengenai lagu kebangsaan, termasuk mengganti kata “Indonees Indones” menjadi “Indonesia Raya”. yaitu:

  1. Apabila lagu kebangsaan Indonesia Raya dinyanyikan satu kuplet saja, maka ulangannya dinyanyikan dua kali. Jika dinyanyikan tiga kuplet maka ulangannya dinyanyikan satu kali, tetapi kuplet yang ketiga ulangannya dilagukan dua kali.
  2. Saat mengibarkan bendera Merah Putih, lagu Kebangsaan harus diperdengarkan dengan ukuran cepat 104. Ketika sedang berbaris, dipakailah menurut keperluan cepat 1-2-120.
  3. Perkataan “semua” diganti dengan “sem’wanya”. Not ditambah “do”.
  4. Perkataan “refein” diganti dengan “ulangan”.

Lagu Indonesia Raya lalu bergema setelah Soekarno membacakan teks proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Namun komposisi lagu Indonesia Raya sejatinya sempat berubah. Di awal kemerdekaan aransemen lagu Indonesia Raya menggunakan aransemen hasil garapan Nobuo Ida, direktur Jakarta Hoso Kyoku pada pendudukan Jepang.

Pertautan Final

Pada 1950,Jos Cleber, perantau asal Belanda, arranger musik yang piawai, menggubah partitur lagu Indonesia Raya untuk orkes filharmoni atas permintaan Jusuf Ronodipuro, kepala RRI studio Jakarta. Hasil aransemen Cleber diperdengarkan kepada Presiden Sukarno. Namun Presiden Soekarno saat itu menjelaskan jika Indonesia Raya itu, layaknya bendera merah puti, polos dan sederhana, jadi tidak perlu diberi renda – renda lagi. Presiden Soekarno meminta agar lagu Indonesia Raya diaransemen seperti lagu Wilhelmus, lagu kebangsaan negeri Belanda. Harus khidmat dan megah, tutur Soekarno. Setelah direvisi, Presiden Soekarno kembali meminta agar ada bagian yang lieflijk, sebelum refrain. Dan refrainnya sendiri harus meledak dan menciptakan klimaks, jelas Soekarno.

Cleber akhirnya berhasil menciptakan Indonesia Raya sesuai keinginan sang Proklamator. Ia menggunakan tiga suasana dalam garapannya yang diawali 20 birama pertama dalam suasana anggun melalui tiup kayu, dilanjutkan 8 birama berikutnya dalam suasana khidmat melalui gesek, dan mencapai klimaks pada refrain dalam suasana heroik yang menggelegar secara tutti dengan penambahan tiup logam dan perkusi.

Versi inilah yang digunakan hingga saat ini.

Lagu Indonesia Raya awalnya diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 44 Tahun 1958. Kemudian dikukuhkan dalam Pasal 36 B UUD 1945 dan “diresmikan” melalui UU No. 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan. Menurut ketentuan Pasal 62 UU No 24 Tahun 2009 disebutkan bahwa “Setiap orang yang hadir pada saat lagu kebangsaan diperdengarkan dan/atau dinyanyikan, wajib berdiri tegak dengan sikap hormat”.

Lagu Indonesia diperdengarkan atau dinyanyikan pada saat:

  • Untuk menghormati Presiden dan/atau Wakil Presiden RI.
  • Untuk menghormati bendera negara pada waktu pengibaran atau penurunan bendera negara yang diadakan dalam upacara.
  • Dalam acara resmi yang diselenggarakan oleh pemerintah.
  • Dalam acara pembukaan sidang paripurna MPR, DPR, DPRD, dan DPD.
  • Untuk menghormati kepala negara atau kepala pemerintahan negara sahabat dalam kunjungan resmi.
  • Dalam acara atau kegiatan olahraga internasional.
  • Dalam acara ataupun kompetisi ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni internasional yang diselenggarakan di Indonesia.

Sumber – sumber rujukan:

  • https://www.kompas.com/stori/read/2021/05/04/180822479/sejarah-lagu-indonesia-raya?page=all
  • https://news.detik.com/berita/d-5136327/kisah-lahirnya-lagu-indonesia-raya-ciptaan-wr-soepratman
  • https://kompaspedia.kompas.id/baca/infografik/kronologi/mengurai-kisah-lagu-indonesia-raya
  • https://tirto.id/sejarah-lirik-lagu-indonesia-raya-dalam-hari-sumpah-pemuda-ekvL
  • https://voi.id/memori/74558/i-indonesia-raya-tak-layak-jadi-lagu-kebangsaan-kata-belanda
  • https://historia.id/politik/articles/jalan-panjang-indonesia-raya-P1R0O
  • https://nasional.tempo.co/read/438197/lagu-indonesia-raya-dan-kontroversinya/full&view=ok
  • https://historia.id/kultur/articles/komponis-belanda-aransemen-indonesia-raya-PNe98

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *