Menggunakan Mata Uang Lokal Dalam Transaksi Perdagangan Bilateral, Kok Bisa?

Menggunakan Mata Uang Lokal Dalam Transaksi Perdagangan Bilateral, Kok Bisa?

Pada Senin (6/9/21) Bank Indonesia (BI) dan People’s Bank of China (PBC) secara resmi melakukan kerja sama penyelesaian transaksi bilateral dengan menggunakan mata uang lokal (Local Currency Settlement) antara Indonesia dan Tiongkok.

Implementasi kerja sama ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan oleh Bank Indonesia untuk mendorong penggunaan mata uang lokal yang lebih luas dalam penyelesaian transaksi perdagangan dan investasi langsung dengan berbagai negara mitra.

Sebelumnya Bank Indonesia (BI) telah menjalin kerjasama LCS dengan Bank Negara Malaysia (BNM) dan Bank of Thailand (BOT) dimana perdagangan internasional antar ketiga negara ini bisa menggunakan mata uang lokal masing-masing yaitu Rupiah, Ringgit, dan Baht. Selain itu Indonesia dan Jepang juga telah mengimplementasikan LCS yang telah berlaku efektif pada 5 Agustus 2021 yang lalu.

Sebelum dikenalnya kerangka kerja sama LCS, masyarakat melakukan transaksi perdagangan bilateral menggunakan mata uang US dollar dalam sistem pembayarannya. Hal ini membuat masyarakat membutuhkan waktu lebih untuk melakukan konversi uang mereka dalam bentuk US dollar.

Oleh karena itu untuk mengurangi ketergantungan penggunaan US Dollar dalam penyelesaian transaksi perdagangan bilateral antara Indonesia dengan negara lain serta untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah diperlukan upaya untuk memitigasi risiko terjadinya fluktuasi rupiah dengan mendorong penggunaan mata uang lokal untuk penyelesaian transaksi perdagangan bilateral dengan negara lain, maka Pemerintah mengeluarkan Peraturan BI No. 19/11/PBI/2017 tentang Penyelesaian Transaksi Perdagangan Bilateral Menggunakan Mata Uang Lokal (Local Currency Settlement) Melalui Bank.

Penyelesaian Transaksi Perdagangan Bilateral Menggunakan Mata Uang Lokal (Local Currency Settlement) adalah penyelesaian transaksi perdagangan bilateral yang dilakukan oleh pelaku usaha di Indonesia dan di negara mitra dengan menggunakan mata uang masing-masing negara. Dalam hal ini bank yang ditunjuk oleh Bank Indonesia bersama bank sentral atau otoritas moneter di negara mitra untuk melakukan kegiatan dan transaksi keuangan tertentu guna kepentingan pelaksanaan LCS disebut juga dengan Bank Appointed Cross Currency Dealer Bank (ACCD).

Bank-Bank ACCD baik di dalam negeri, maupun dengan negara mitra dapat melakukan berbagai transaksi, antara lain:

  1. Pembukaan rekening Special Purpose Non-Resident Account (SNA) rupiah dan SNA mitra
  2. Pembukaan Sub-SNA mitra
  3. Transaksi rupiah atau valuta asing terhadap mata uang negara mitra.
  4. Pembiayaan perdagangan
  5. Pengelolaan saldo SNA dan saldo Sub-SNA
  6. Transfer dana

Di sisi lain, BI terus memperkuat kerja sama bilateral dengan bank sentral negara mitra untuk meningkatkan penggunaan mata uang lokal (local currency settlement) dalam penyelesaian transaksi perdagangan bilateral. Kerja sama bilateral tersebut diharapkan dapat berkontribusi positif bagi upaya BI dalam menjaga kestabilan nilai tukar rupiah dan mengurangi ketergantungan terhadap US Dollar. Selain itu, penggunaan mata uang lokal juga berperan dalam:

  1. mendorong diversifikasi eksposur mata uang
  2. berpotensi mengurangi biaya transaksi perdagangan karena terjadinya direct quotation antara mata uang lokal
  3. mendorong pengembangan pasar keuangan domestik berbasis mata uang lokal
  4. membuka akses (partisipasi pelaku)
  5. alternatif investasi di dalam mata uang selain US Dollar (bagi perbankan dan eksportir)
  6. biaya premi Forward dapat lebih rendah jika dibandingkan dengan premi Forward ke US Dollar
  7. Secara efektif dapat mengurangi tingkat risiko nilai valuta asing serta dapat melindungi eksportir dan importir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *