Menilik Balapan Liar Berdasarkan Hukum Indonesia

Menilik Balapan Liar Berdasarkan Hukum Indonesia

Baru-baru ini video mengenai aksi balap liar viral di media sosial. Di dalam video tersebut terlihat para pengemudi mobil melakukan adu balap di trek lurus atau drag race yang dilakukan di jalan raya daerah Kalimalang. Bahkan pada Sabtu (11/09/21) kemarin, meski diberlakukan car free night pada setiap Jumat malam, Sabtu malam dan Minggu malam sejak pukul 00.00 – 04.00 WIB di Jalan Sudirman-Thamrin, SCBD, Kemang dan Jalan Asia Afrika, Polda Metro Jaya menindak sebanyak 639 pemilik kendaraan roda dua yang berencana melakukan balapan liar. Saat ini pun Polda Metro Jaya masih melakukan patroli sekala besar untuk menindak para pengendara balapan liar, menggunakan knalpot bising, serta melawan arus.

Balapan liar adalah kegiatan beradu cepat kendaraan, baik sepeda motor maupun mobil, yang dilakukan di atas lintasan umum. Artinya kegiatan ini sama sekali tidak digelar di lintasan balap resmi, melainkan di jalan raya. Biasanya kegiatan ini dilakukan pada tengah malam sampai menjelang pagi saat suasana jalan raya sudah mulai lenggang. Selain untuk bersenang-senang, hobi dan mencari gengsi di antara geng motor yang lain.

Dalam UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, tertulis jelas bahwa Pengemudi Kendaraan Bermotor di Jalan dilarang untuk melakukan:

  1. mengemudikan Kendaraan melebihi batas kecepatan paling tinggi yang diperbolehkan sebagaimana diatur pada PP No. 79 Tahun 2013 tentang Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yaitu:
    1. paling rendah 60 (enam puluh) kilometer per jam dalam kondisi arus bebas dan paling tinggi 100 (seratus) kilometer per jam untuk jalan bebas hambatan;
    2. paling tinggi 80 (delapan puluh) kilometer per jam untuk jalan antarkota;
    3. paling tinggi 50 (lima puluh) kilometer per jam untuk kawasan perkotaan; dan
    4. paling tinggi 30 (tiga puluh) kilometer per jam untuk kawasan permukiman.
  2. berbalapan dengan Kendaraan Bermotor lain.

Adapun ketentuan tersebut dikeluarkan dengan mempertimbangkan bahwa Lalu Lintas dan Angkutan Jalan sebagai bagian dari sistem transportasi nasional harus dikembangkan potensi dan perannya untuk mewujudkan keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran berlalu lintas dan Angkutan Jalan dalam rangka mendukung pembangunan ekonomi dan pengembangan wilayah. Ini bertentangan dengan balap liar karena kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang sangat berisiko dan membahayakan karena dilakukan tanpa standar keamanan yang memadai. Selain itu, aksi kebut-kebutan di jalan umum juga memicu terjadinya kemacetan sehingga dapat mengganggu kelancaran lalulintas di sekitarnya. Tidak jarang juga balap liar menyebabkan terjadinya kecelakaan yang menimbulkan korban, baik korban luka maupun meninggal dunia.

Oleh karena itu dalam hal menanggulangi balap liar kepolisian juga melakukan upaya preventif dalam menanggulangi balap liar yakni:

  1. Memberikan penyuluhan atau sosialisasi mengenai tertib lalu lintas

Melalui program ini diharapkan masyarakat tersebut dapat menaati aturan mengenai lalu lintas untuk mewujudkan lalu lintas secara tertib dan teratur. Proses pembelajaran yang baik dilakukan sejak usia dini sehingga dapat membentuk karakter seseorang untuk menjadi lebih baik.

  1. Melakukan penerangan keliling atau penling

Penling atau penerangan keliling yaitu suatu kegiatan yang dilakukan oleh aparat kepolisian dengan menggunakan mobil patroli yang menyuarakan suatu himbauan kepada masyarakat agar tidak melakukan kebut-kebutan serta senantiasa menaati peraturan lalu lintas demi keselamatan bersama pengguna jalan raya. Melalui kegiatan ini diharapkan pengguna jalan dapat mengetahui risiko bahaya apabila tidak menaati lalu lintas

  1. Melakukan operasi kendaraan

Operasi kendaraan ini ditujukan untuk melakukan hunting atau pengincaran terhadap motor-motor yang tidak memenuhi standar atau motor-motor yang sudah dimodifikasi sebagai motor balap karena dikawatirkan motor-motor tersebut digunakan sebagai balap liar.

  1. Melakukan patroli yang berkelanjutan atau berkesinambungan di tempat-tempat yang rawan terjadi balap liar

Pencegahan tindak pidana perjudian dalam balap liar dapat dilakukan dengan cara patroli yang berkelanjutan atau berkesinambungan di tempat-tempat yang rawan terjadi balap liar. Dengan menggelar patroli ini diharapkan dapat membubarkan maupun menangkap pelaku balap sehingga aksi perjudian dalam balap liar ini dapat digagalkan.

  1. Penjagaan di pos-pos yang rawan terjadi balap liar

Penjagaan di pos-pos yang rawan terjadi balap liar merupakan salah satu upaya pencegahan yang dilakukan untuk menanggulangi perjudian balap liar. Penjagaan ini dilakukan agar para pelaku balap liar mengurungkan niatnya untuk melakukan balap liar sehingga perjudian dalam balap liar tidak dilakukan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *