Menilik Perlindungan Hewan di Indonesia

Menilik Perlindungan Hewan di Indonesia

Penganiayaan yang dilakukan oleh manusia terhadap hewan di Indonesia masih terbilang tinggi, ini dibuktikan berdasarkan laporan Asia For Animals Coalition pada 2021 yang menempatkan Indonesia pada peringkat pertama penghasil konten penyiksaan hewan di internet, sebanyak 1.626 video mengenai penyiksaan hewan di produksi di Indonesia dan sebanyak 1.569 video diunggah dari Indonesia. Dengan tingginya perilaku penganiayaan ini membukti bahwa kesejahteraan hewan di Indonesia belum terwujud, Kesejahteraan hewan adalah segala urusan yang berhubungan dengan keadaan fisik dan mental hewan menurut ukuran perilaku alami hewan yang perlu diterapkan dan ditegakkan untuk melindungi hewan dari perlakuan setiap orang yang tidak layak terhadap hewan yang dimanfaatkan manusia.

Dengan menimbang bahwa hewan sebagai karunia dan amanat Tuhan Yang Maha Esa yang mempunyai peranan penting dalam penyediaan pangan asal hewan dan hasil hewan lainnya serta jasa bagi manusia yang pemanfaatannya perlu diarahkan untuk kesejahteraan masyarakat, Indonesia mengeluarkan peraturan perundang-undangan yang melindungi dan menjamin kesejahteraan hewan. Berdasarkan KUHP tepatnya Pasal 302 yang tertulis jelas bahwa Diancam dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah karena melakukan penganiayaan ringan terhadap hewan:

  1. barang siapa tanpa tujuan yang patut atau secara melampaui batas, dengan sengaja menyakiti atau melukai hewan atau merugikan kesehatannya;
  2. barang siapa tanpa tujuan yang patut atau dengan melampaui batas yang diperlukan untuk mencapai tujuan itu, dengan sengaja tidak memberi makanan yang diperlukan untuk hidup kepada hewan, yang seluruhnya atau sebagian menjadi kepunyaannya dan ada di bawah pengawasannya, atau kepada hewan yang wajib dipeliharanya.

Jika perbuatan itu mengakibatkan sakit lebih dari seminggu, atau cacat atau menderita luka-luka berat lainnya, atau mati, yang bersalah diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan, atau pidana denda paling banyak tiga ratus rupiah, karena penganiayaan hewan.

Selain itu dalam UU No. 18 Tahun 2009 yang telah diubah dengan UU No. 41 tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan pada Pasal 66A menjelaskan bahwa Setiap Orang dilarang menganiaya dan/ atau menyalahgunakan Hewan yang mengakibatkan cacat dan/atau tidak produktif. Merujuk dari UU Peternakan dan Kesehatan Hewan, Pemerintah juga mengeluarkan PP No. 95 Tahun 2012 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Kesejahteraan Hewan yang pada Pasal 92 tertulis bahwa Setiap orang dilarang untuk:

  1. menggunakan dan memanfaatkan Hewan di luar kemampuan kodratnya yang dapat berpengaruh terhadap kesehatan, keselamatan, atau menyebabkan kematian Hewan;
  2. memberikan bahan pemacu atau perangsang fungsi kerja organ Hewan di luar batas fisiologis normal yang dapat membahayakan kesehatan, keselamatan, atau menyebabkan kematian Hewan;
  3. menerapkan bioteknologi modern untuk menghasilkan Hewan atau produk Hewan transgenik yang membahayakan kelestarian sumber daya Hewan, keselamatan dan ketenteraman batin masyarakat, dan kelestarian fungsi lingkungan hidup;
  4. memanfaatkan kekuatan fisik Hewan di luar batas kemampuannya; dan
  5. memanfaatkan bagian tubuh atau organ Hewan untuk tujuan selain medis.

Akan tetapi kesadaran dari masyarakat dan aparat penegak hukum untuk melaksanakan ketentuan dari undang-undang dalam menjaga dan melindungi kebebasan hewan peliharaan masih lemah dan penganiayaan hewan terus berlanjut hingga kini, ini disebabkan oleh ancaman hukuman masih terlalu ringan dan tidak memberikan efek jera.

Oleh karena itu untuk mewujudkan kesejahteraan hewan, Pemerintah diharap tidak hanya menjaminkan perlindungan atas hewan dengan sekedar menjatuhkan hukuman bagi penganiaya hewan layaknya yang tertuang dalam KUHP, melainkan juga membiarkan hewan untuk hidup dalam kondisi yang memungkinkannya bertindak layaknya semestinya dalam pemenuhan kebutuhan alamiahnya. Selain itu manusia selaku pemilik atau pengelola hewan perlu memperhatikan hak asasi hewan yang dideklarasikan pada 1978 di Kantor Pusat UNESCO. Adapun lima hak asasi hewan yang perlu diperhatikan untuk memastikan hewan tersebut telah memenuhi syarat untuk dapat dikatakan telah sejahtera hidupnya, yaitu:

  1. Bebas dari rasa lapar, haus dan malnutrisi (kekurangan nutrisi)
  2. Bebas dari rasa sakit dan tidak nyaman.
  3. Bebas dari rasa takut dan tertekan.
  4. Bebas dari kesakitan, luka dan penyakit.
  5. Bebas untuk mengekspresikan pola perilaku normal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *