Saat Terpidana Memilih Dikurung Ketimbang Bayar Denda

Saat Terpidana Memilih Dikurung Ketimbang Bayar Denda

No Comments

Paska diberlakukannya PPKM Darurat di Jawa Bali, pemerintah daerah di berbagai tempat di Jawa dan Bali segera menerapkan tindakan tegas. Di Tasikmalaya, Jawa Barat, Seorang terdakwa yang didakwa telah melakukan pelanggaran PPKM Darurat divonis bersalah setelah terbukti melayani pembeli di tempat dan melebihi batas waktu yang ditentukan yakni pukul 20.00 WIB selama PPKM Darurat.

Dalam persidangan virtual yang digelar oleh Pengadilan Negeri Tasikmalaya yang dipimpin Hakim Abdul Gofur, ia divonis hukuman denda Rp 5 juta subsider penjara 3 hari. Namun sang Terdakwa menolak membayar denda, ia mengaku tak punya uang buat bayar denda yang dijatuhkan oleh Pengadilan Negeri Tasikmalaya tersebut.

Sebenarnya ia tak sendiri dalam menjalani sidang pelanggaran PPKM Darurat tersebut. Ada 9 pelaku usaha lainnya yang juga dinyatakan bersalah oleh PN Tasikmalaya karena melanggar PPKM Darurat.

Sebelumnya, seorang tukang bubur juga di denda 5 juta rupiah. Namun pengusaha bubur ayam tersebut memilih membayar denda sebesar 5 juta rupiah. Meski menurutnya, pembelinyalah yang ngotot buat makan di tempat meski sedang diberlakukan PPKM Darurat.

Dalam penelusuran SIPP di PN Tasikmalaya ditemukan bahwa terdakwa tersebut didakwa karena melanggar Pasal 34 ayat (1) jo Pasal 21 I ayat (2) huruf (f) dan (g) Perda Provinsi Jawa Barat No. 5 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Ketentraman, Ketertiban Umum dan Perlindungan Masyarakat

Namun bagaimana duduk perkara mengenai penjatuhan pidana khususnya penjatuhan pidana denda?

Dalam konteks penjatuhan pidana, pidana denda menjadi prioritas pilihan pemidanaan dari para ahli hukum karena dianggap lebih menguntungkan masyarakat karena tidak menghabiskan banyak sumber daya sosial (social resource) seperti penjaga, makan, dan petugas rehabilitasi. Pilihan pidana denda ini dianggap efisien karena penjatuhannya tidak memerlukan biaya apapun. Karena hanya berkaitan dengan kewajiban pelaku untuk membayar sejumlah uang kepada Negara. Negara sendiri tidak mengeluarkan biaya apapun ketika menjatuhkan sanksi pidana denda.

Namun penetapan pidana denda juga wajib mempertimbangkan (a) sistem penetapan jumlah atau besarnya pidana denda; (b) batas waktu pelaksanaan pembayaran denda, (c) tindakan-tindakan paksaan yang diharapkan dapat menjamin terlaksananya pembayaran denda dalam hal ini terpidana tidak membayar dalam batas waktu yang telah ditetapkan; (d) pelaksanaan pidana denda dalam hal khusus (misalnya terhadap seorang anak yang belum dewasa atau belum kerja dan masih dalam tanggungan orang tua); (e) pedoman atau kriteria untuk menjatuhkan pidana denda.

Karena itu agar pidana denda dapat berdampak secara operasional dan salah satu tujuan pemidanaan agar dapat mencegah pelaku untuk melakukan kejahatan berhasil, maka efektifitas penjatuhan pidana denda akan sangat bergantung pada lima faktor; pertama, asset yang dimiliki pelaku. Semakin kecil kekayaan (asset) yang ada, semakin kecil pula eksistensi pidana denda di dalam mencegah pelaku melakukan kejahatan. Kedua, kemungkinan pelaku untuk tidak dijatuhi sanksi pidana penjara. Semakin besar kemungkinan ini, semakin tinggi sanksi pidana dijatuhkan untuk mencegah kejahatan. Ketiga, tingkat keuntungan yang diperoleh dari melakukan kejahatan. Semakin besar keuntungan itu, semakin tinggi sanksi pidana dibutuhkan untuk mencegah kejahatan, dan juga semakin besar kesempatan dari jumlah denda yang dijatuhkan dari kekayaan yang dimiliki pelaku. Keempat, kemungkinan bahwa tindak pidana akan mengakibatkan kerugian. Dan terakhir, besarnya kerugian yang ditimbulkan.

About us and this blog

We are a digital marketing company with a focus on helping our customers achieve great results across several key areas.

Request a free quote

We offer professional SEO services that help websites increase their organic search score drastically in order to compete for the highest rankings even when it comes to highly competitive keywords.

Subscribe to our newsletter!

More from our blog

See all posts
No Comments
Share