Yuk, Simak Aturan Terbaru Pelaksanaan Halal Bihalal di Masa PPKM 2022!

Halal bihalal merupakan suatu tradisi lebaran, dimana sekelompok orang Islam di Indonesia akan berkumpul dalam suatu tempat tertentu untuk saling bersalaman sebagai ungkapan saling memaafkan. Umumnya, kegiatan ini diselenggarakan setelah melakukan solat Idul Fitri. Terkadang, acara halal bihalal juga dilakukan di hari setelah Idul Fitri dalam bentuk pengajian, ramah-tamah atau makan bersama.

Sejarah Halal Bihalal

Tradisi halal bihalal pertama kali dirintis oleh Mangkunegara I, yang terkenal dengan sebutan Pangeran Sambernyawa. Saat itu, untuk menghemat waktu, tenaga, pikiran dan biaya, setelah shalat Idul Fitri, Pangeran Sambernyawa mengadakan pertemuan antara raja dengan para punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana. Dalam budaya Jawa, seseorang yang sungkem kepada orang yang lebih tua adalah suatu perbuatan yang terpuji. Tujuan sungkem adalah sebagai lambang penghormatan dan permohonan maaf.

Sumber lainnya adalah tradisi halal bihalal lahir bermula pada masa revolusi kemerdekaan. Saat itu, kondisi Indonesia sangat terancam dan membuat sejumlah tokoh menghubungi Soekarno pada bulan Puasa tahun 1946 agar bersedia pada saat hari raya Idul Fitri digelar pertemuan dengan mengundang seluruh komponen revolusi. Tujuannya adalah agar lebaran menjadi ajang saling memaafkan dan menerima keragaman dalam bingkai persatuan dan kesatuan bangsa.

Kemudian, Presiden Soekarno menyetujui dan dibuatlah kegiatan halal bihalal yang dihadiri
tokoh dan elemen bangsa sebagai perekat hubungan silaturahmi secara nasional. Sejak saat itu,
semakin maraklah tradisi halal bihalal dan tetap dilestarikan oleh masyarakat Indonesia sebagai
salah satu media untuk mempererat persaudaraan bagi keluarga, tetangga, rekan kerja dan umat
beragama.

Aturan Terbaru Pelaksanaan Halal Bihalal di Masa PPKM 2022

Namun, di masa pandemi ini, untuk mencegah terjadinya peningkatan jumlah kasus Covid-19, maka dalam hal akan dilakukan kegiatan halal bihalal oleh masyarakat, harus menaati Surat Edaran No. 003/2219/SJ tentang Pelaksanaan Halal Bihalal Pada Perayaan Idulfitri Tahun 1443 H/2022.

Dimana sesuai dengan SE tersebut, kegiatan halal bihalal dibatasi sesuai dengan Level Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang berlaku pada daerah masing-masing, ada pun syarat dan ketentuan untuk halal bihalal, ialah:

  1. Pada daerah yang masuk kategori Level 3, Maksimal jumlah tamu yang dapat hadir pada acara halal bihalal adalah 50% (lima puluh persen).
  2. Pada daerah yang masuk kategori Level 2, Maksimal jumlah tamu yang dapat hadir pada acara halal bihalal adalah 75% (tujuh puluh lima puluh persen).
  3. Pada daerah yang masuk kategori Level 1, Maksimal jumlah tamu yang dapat hadir pada acara halal bihalal adalah 100% (seratus persen).
  4. Untuk kegiatan halal bihalal dengan jumlah di atas 100 (seratus) orang, makanan/minuman disediakan dalam kemasan yang bisa dibawa pulang dan tidak diperbolehkan ada makanan/minuman yang disajikan di tempat (prasmanan). Harus dihindari acara makan-makan ramai yang membuat peserta membuka masker, karena rawan penularan covid-19.
  5. Tetap melaksanakan protokol kesehatan secara lebih ketat yang pengaturannya diatur lebih lanjut oleh Pemerintah Daerah, dengan sekurang-kutangnya memakai masker, mencuci tangan/menggunakan hand sanitizer secara berkala, serta menjaga jarak.

Mau meningkatkan kapasitas dan skil serta pengetahuan dengan cara mudah dan terjangkau? Mulai dari IDR 50 ribu/bulan, anda dapat mengikuti beragam pelatihan virtual dan kelas pengetahuan mandiri tanpa batas.

Segera daftarkan diri anda dalam program Amica@NgertiHukumID

Leave a Reply

Your email address will not be published.